MAKALAH "INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI"
MAKALAH "INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI"
DISUSUN OLEH: KIYAT YULIANI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan kunci untuk
menapaki masa depan. Dengan menempuh pendidikan, diharapkan seseorang akan
mendapatkan pekerjaan sebagai mata pencaharian atau setidaknya mempunyai dasar
ketrampilan untuk mencari nafkahnya.
Selama ini kita tahu proses belajar atau yang
sering kita sebut pendidikan telah kita dapat di sekolah-sekolah, mulai dari TK
sampai SMA bahkan sampai perguruan tinggi. Sekolah menjadi penting, artinya
melalui sekolah kita mendapat pendidikan yang menentukan arah kehidupan kita
dalam menapaki masa depan terutama dalam mencari sebuah pekerjaan.
Tetapi dengan adanya kasus
pertama COVID-19 dikonfirmasi di Indonesia pada 2 Maret 2020. Pada 15 Maret,
Indonesia mengumumkan 117 kasus yang terkonfirmasi dan Presiden Joko Widodo
menyerukan kepada penduduk Indonesia untuk melakukan langkah-langkah pembatasan
sosial. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB)
diberlakukan sebagai tanggapan terhadap penyakit koronavirus 2019 (COVID-19)
yang telah menjadi pandemi. Pembatasan tersebut dilaksanakan oleh pemerintah daerah
dengan persetujuan Kementerian Kesehatan, dan paling sedikit meliputi peliburan
sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau pembatasan
kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Dengan adanya PSBB ini memaksa
terjadinya perubahan yang sangat drastis dalam dunia pendidikan terutama dalam
proses pembelajaran.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana kondisi awal
pandemi?
2.
Bagaimana pendidikan di
massa PSBB?
3.
Bagaimana internet sebagai media
pembelajaran?
4.
Apa dampak terhadap peserta
didik?
5.
Apa dampak terhadap guru?
6.
Apa dampak terhadap orang tua?
7.
Apa kendala dalam penggunaan
internet sebagai media pembelajaran?
C.
TUJUAN RUMUSAN
1. Mengetahui
kondisi awal pandemi.
2. Mengetahui
kondisi pendidikan di massa pandemi.
3. Mengetahui
bagaimana internet sebagai media pembelajaran.
4. Mengetahui
dampaknya terhadap peserta didik.
5. Mengetahui
dampaknya terhadap guru.
6. Mengetahui
dampaknya terhadap orang tua.
7. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
AWAL PANDEMI
Kasus pertama COVID-19
dikonfirmasi di Indonesia pada 2 Maret 2020, dengan 2 warga Kota Depok,
Provinsi Jawa Barat dinyatakan positif mengidap virus penyebab penyakit
tersebut. Pada 15 Maret, Indonesia mengumumkan 117 kasus yang terkonfirmasi dan
Presiden Joko Widodo menyerukan kepada penduduk Indonesia untuk melakukan
langkah-langkah pembatasan sosial, sementara beberapa pemimpin daerah di
Jakarta, Banten dan Jawa Barat sudah menutup sekolah dan tempat-tempat umum.
Keesokan harinya, Joko Widodo menyampaikan bahwa ia tidak akan melakukan
karantina wilayah atau penguncian (bahasa Inggris: lockdown). Pada 27 Maret,
Dedy Yon Supriyono, Wali kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah mengumumkan bahwa
kota yang dipimpinnya akan menerapkan tindakan penguncian lokal, menutup
beberapa titik akses ke dan dari kota, dan menjadi lokasi pertama yang
melakukannya di Indonesia.
Pada tanggal 31 Maret 2020,
Presiden Indonesia, Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 21
Tahun 2020, yang mengatur pembatasan sosial berskala besar sebagai respons
terhadap COVID-19, yang memungkinkan pemerintah daerah untuk membatasi
pergerakan orang dan barang masuk dan keluar dari daerah masing-masing asalkan
mereka telah mendapat izin dari kementerian terkait (dalam hal ini Kementerian
Kesehatan, di bawah Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto). Peraturan
tersebut juga menyebutkan bahwa pembatasan kegiatan yang dilakukan paling
sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan
keagamaan, dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Pada
saat yang sama, Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 juga ditandatangani,
yang menyatakan pandemi koronavirus sebagai bencana nasional. Pembuatan kedua
peraturan tersebut didasarkan pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang
Kekarantinaan Kesehatan, yang mengatur ketentuan mendasar untuk PSBB
(Wikipedia.com)
B. PENDIDIKAN
DI MASA PSBB
Sejak
diberlakukannya PSBB diberbagai daerah di tanah air, sekolah-sekolah mulai dari
PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/STM/MAN dn perguruan tinggi merumahkan seluruh
siswa dan siswinya untuk belajar dari rumah. Sekolah yang biasanya mengandalkan
tatap muka dalam pembelajaran, pada awal PSBB dipaksa untuk mampu menggerakan
segala upaya untuk memberikan pembelajaran dari rumah.
Internet
merupakan media yang paling diandalkan dalam keberlangsungan pembelajaran jarak
jauh (PJJ). Para pendidik dan peserta didik dituntut untuk dapat memanfaatkan
internet dengan semaksimal mungkin.
Dengan begitu diharapkan pembelajaran dapat tetep berjalan sesuai dengan
yang diharapkan.
C. INTERNET
SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Handphone,
laptop, dan computer yang terdapat dengan layanan internet akan membantu siswa
menemukan informasi yang dapat menopang pengetahuannya di sekolah. Bagi siswa,
biasanya internet dan segala macam di dalamnya sangat berguna untuk mencari
tugas yang mereka terima di sekolah (Milawati et al., n.d.).
Kebijakan
social distancing maupun physical distancing guna meminimalisir penyebaran
COVID-19 mendorong semua elemen pendidikan untuk mengaktifkan kelas meskipun
sekolah tutup. Penutupan sekolah menjadi langkah mitigasi paling efektif untuk
meminimalisir penyebaran wabah pada anakanak. Solusi yang diberikan yakni
dengan memberlakukan pembelajaran dirumah dengan memanfaatkan berbagai
fasilitas penunjang yang mendukung. Selama masa pandemic COVID-19 pembelajaran
dirumah atau online menjadi solusi melanjutkan sisa semester. Pembelajaran
online didefinisikan sebagai pengalaman transfer pengetahuan menggunakan video,
audio, gambar, komunikasi teks, perangkat lunak dan dengan dukungan jaringan
internet. Ini merupakan modifikasi transfer pengetahuan melalui forum website
dan tren teknologi digital sebagai ciri khas dari revolusi industry 4.0 untuk
menunjang pembelajaran selama masa pandemic COVID-19. Integrasi teknologi dan
ragam inovasi ciri dari pembelajaran online. Selain itu, yang terpenting adalah
kesiapan pendidik dan peserta didik untuk berintereaksi secara online.
Infrastruktur yang mendukung pembelajaran online secara gratis melalui berbagai
ruang diskusi seperti Google Classroom, Whatsapp, Kelas Cerdas, Zenius, Quipper
dan Microsoft. Fitur Whatsapp mencakup Whatsapp Group yang dapat digunakan
untuk mengirim pesan teks, gambar, video dan file dalam berbagai format kepada
semua anggota. Google Clasroom juga memungkinkan pendidik dan guru
mengembangkan pembelajaran kreatif. Diskusi dan transfer pengetahuan secara
face-to-face layaknya bertemu melalui beragam platform video teleconference
yang banyak tersedia gratis seperti Zoom dan Google Meet. Platform tersebut
menjadikan pendidik dan peserta didik untuk bertemu dan berinteraksi secara
virtual dengan fasilitas pesan instan dan kegiatan presentasi. Berbagai layanan
tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penunjang transfer pengetahuan hingga
diskusi terkait konten pembelajaran. Ini juga dilakukan dengan memanfaatkan
segala sumber daya local secara nasional seperti saluran televisi untuk
edukasi. Di Indonesia, televisi pada saluran TVRI digunakan untuk menyiarkan
konten edukasi secara nasional. Konten yang disiarkan digolongkan berdasarkan
jenjang pendidikan yang sesuai dengan kurikulum di Indonesia. Variasi platform
dan seumber daya yang tersedia membantu menunjang proses pembelajaran selama
pandemic COVID-19.
Aktifitas
pembelajaran yang dapat dilakukan mulai dari diskusi, presentasi hingga
pemberian tugas. Ini selaras dengan penelitian Firman dan Rahayu (2020) bahwa
pembelajaran online melatih kemandirian belajar. Ini akan membutuhkan
keterlibatan peserta didik yang lebih besar untuk meningkatkan perilaku belajar
observasional. Perilaku tersebut dapat dilakukan dengan membaca, memaknai
postingan diskusi dan mendiskusikan video atau konten pembelajaran. Ini akan
membiasakan peserta didik untuk mengumpulkan dan mengelola informasi terkait tugas
yang diberikan tanpa batasan ruang dan waktu. Hal ini dikarenakan pembelajaran
online memungkinkan akses informasi dan pengetahuan dirumah dan dimanapun yang
disesuaikan dengan kenyamanan peserta didik. Belajar online menuntut peran
pendidik mengevaluasi efektivitas dan disesuaikan dengan kebutuhan belajar. Ini
penting dilakukan untuk tetap memenuhi aspek pembelajaran seperti proses
pengetahuan, moral, keterampilan, kecerdasan dan estetika. Mengingat bahwa
perubahan ke pembelajaran online secara tidak langsung berpengaruh pada daya
serap peserta didik.
Penting
untuk diperhatikan yakni komunikasi orang tua dan pendidik untuk mewujudkan
kemandirian belajar peserta didik selama masa pandemic COVID-19. Ragam manfaat
yang diperoleh, tentu memiliki kendala yang dirasakan pendidik maupun peserta
didik dalam pembelajaran online (Herliandry et al., 2020)
D. DAMPAK
PENGGUNAAN INTERNET TERHADAP PESERTA DIDIK
Pandemi covid-19
mengharuskan peserta didik
untuk belajar jarak
jauh dan belajar dirumah dengan
bimbingan dari orang tua. Karena pandemi ini, peserta didik kurang dalam
mempersiapkan diri. Seperti motivasi peserta didik yang kurang dalam mengikuti
pembelajaran daring. Peserta didik yang biasanya mengikuti pembelajaran di kelas
dengan teman-teman harus
dihadapkan dengan belajar
di rumah sendiri sehingga peserta didik
merasa jenuh. Kemudian
libur panjang yang
terlalu lama membuat peserta
didik bosan dan jenuh, membuat mereka ingin keluar rumah.Fasilitas yang
kurang memadai, menjadi
salah satu penyebab
peserta didik kurang termotivasi
dalam mengikuti pembelajaran daring.
Peserta didik harus dihadapkan dengan
sistem online yang
pembelajarannya berupa teori.
Yang biasanya peserta didik
melakukan praktik untuk
mata pelajaran yang
membutuhkan praktik karena pandemi
covid-19 ini, membuat
penyampaian materi tersebut
hanya dengan teori.
Hal ini
menyebabkan peserta didik
lambat dalam menyerap pembelajaran, apalagi
jika dilihat dari
daya serap peserta
didik yang berbeda.
Ada beberapa peserta didik
yang cepat menangkap
pembelajaran namun ada
juga beberapa yang lambat menyerap pembelajaran
sehingga peserta didik
ini akan tertinggal dalam
pembelajaran tersebut. Adanya
pandemi covid-19 ini
membuat peserta didik
mau tidak mau,
suka tidak suka harus
berhadapan dengan teknologi
untuk mendukung pembelajaran.
Sekolah harus menyiapkan alat
dan bahan untuk
menyiapkan bahan ajar
dalam pembelajaran jarak jauh.
Untuk menjadi pembelajar
online yang efektif
seorang memerlukan cara tertentu yaitu siswa harus dihadapkan pada
berbagai pengalaman belajar(Mastura & Santaria, 2020).
E. DAMPAK
PENGGUNAAN INTERNET TERHADAP GURU
Dampak yang
menonjol bagi guru
yaitu tidak semua
guru mahir dalam menggunakan teknologi
terutama di lingkungan pedesaan.
Guru harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan
metode daring, kompetensi
guru dalam penggunaan teknologi
sangat mempengaruhi kualitas
pembelajaran dan hasil terhadap peserta
didik. Oleh karena
itu guru perlu
untuk mengikuti pelatihan sebelumnya sehingga
guru memiliki persiapan
dalam melakukan pembelajaran daring. Dampak lain
bagi guru yaitu
sebelumnya guru melakukan
pembelajaran dengan langsung berinteraksi dengan
peserta didik sehingga
terbiasa dengan situasi tersebut, kemudian dihadapkan dengan
situasi pembelajaran di
rumah membuat guru merasa
jenuh. Yang biasanya
guru bertemu dan
bersosialisasi dengan guru lainnya,
sekarang guru harus
mengajar di rumah.
Hal ini membuat
guru bosan dan membuat
guru akan asing
dengan dunia luar
jika terlalu lama mengajar
di dalam rumah. Maka
dari itu, pihak
sekolah harus memperhatikan
hal tersebut, sekolah dapat memberikan motivasi kepada
guru.
Kuato internet
sangat dibutuhkan guru
dalam proses pembelajaran
otomatis pengeluaran guru juga
meningkat.Karena
pembelajaran tidak akan
berjalan tanpa adanya akses
internet dalam hal
ini kuota internet.
Pembelajaran daring yang dilakukan selama satu semester
membutuhkan kuota internet yang besar, kemudian guru juga harus menjalin hubungan
baik dengan para orang tua dan kepala sekolah. Komunikasi harus
tetap berjalan untuk
memantau perkembangan peserta
didik, maka pengeluaran guru tidak hanya
mengarah pada kuato internet
tetapi juga pada biaya
komunikasi dengan kepala
sekolah seperti pulsa,
pengeluaran lainnyayaitu waktu.
Guru akan tersita waktunya untuk melakukan pembelajaran daring(Mastura & Santaria, 2020)
F. DAMPAK
PENGGUNAAN INTERNET TERHADAP ORANG TUA
Dampak yang
dirasakan orang tua
yaitu penambahan biaya
kuota internet untuk anaknya. Pembelajaran
yang dilakukan beberapa
bulan membutuhkan kuota
besar maka pengeluaran orang tua juga akan meningkat. Selain pengeluaran
biaya, orang tua juga harus
meluangkan waktu ekstra
bagi anaknya. Orang
tua harus membimbing anaknya
ketika pembelaran daring
berlangsung dan harus
mampu membagi waktu dengan
kegiatan rutin sehari-hari. Biasanya
guru akan ikut
serta dalam pembelajaran dan mengerjakan tugas bersama
anaknya.Pembelajaran daring juga
memaksa guru untuk
menguasai teknologi. Orang
tua harus mampu menggunakan teknologi
untuk membantu anaknya
dalam pembelajaran. Namun kadang kala
guru kurang paham
dalam penggunaan internet sehingga pembelajaran anak terhambat
akan kurang di dampangi oleh orang tua(Mastura & Santaria, 2020).
G. KENDALA
DALAM PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA BELAJAR
Kendala
Guru dalam Proses Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19 Kebijakan pemerintah
mengenai pembelajaran online
pada pandemi covid-19
ini mengharuskan guru harus
melakukan pengajaran secara
online dari rumah.
Guru yang biasanya melakukan
pembelajaran secara konvensial
harus dilakukan dengan jarak
jauh yang membuat
guru kelimpungan dalam
membuat metode pembelajaran agar tetap
berjalan secara efektif
dan efisien. Positifnya
bagi guru dalam
keadaan pandemi covid-19, guru
akan aman dengan
tetap berada dalam
rumah. Namun, merubah kebiasaan
sangatlah sulit, kebiasaan
yang sudah mengakar
akan menyulitkan guru untuk beradaptasi dengan lingkungan dan situasi
baru. Kendala selanjutnya yaitu
metode, gaya dan
strategi guru dalam
pembelajaran harus berubah dan
disesuaikan dengan pembelajaran
secara online. Metode
yang digunakan harus dapat memaksimal
sehingga dapat diserap
peserta didik. Salah satu
aspek penting dalam
metode pembelajaran terutama
pembelajaran secara online yaitu
komunikasi. Guru yang
biasanya melakukan komunikasi
secara langsung dengan peserta
didik harus mampu
melakukan komunikasi secara
online. Guru harus memperhatikan komunikasi sehingga pembelajaran dapat
tersalurkan.Guru harus mampu
merubah gaya komunikasi
di era pandemi
covid-19, yang biasanya guru
berkomunikasi satu arah dan biasanya terjadi diskusi dengan peserta didik, pada
pandemi covid-19 sekarang
ini membuat peserta
didik kurang aktif
dan kurang termotivasi dalam
berdiskusi secara online.
Maka dari itu
guru harus sigap dan
mampu membangun semangat
peserta didik melalui
komunikasi yang baik.
Kendala yang
paling mendasar dan
selalu di bahas
di awal pembahasan
ini yaitu kemampuan guru
dalam menggunakan teknologi dalam proses
pembelajaran. tidak semua guru ahli dan paham dengan teknologi Kendala
yang dihadapi yakni kondisi wilayah di Indonesia yang beragam menyebabkan tidak
semua wilayah terjangkau oleh layanan internet dan sebaran jaringan internet
yang lamban sewaktu-waktu. Ini juga memungkinkan penggunaan internet yang tinggi
berpengaruh pada kesehatan peserta didik.
Kendala lain yang ditemukan yakni kemampuan orang tua untuk memberikan fasilitas pendidikan online seperti penggunaan jaringan internet yang membutuhkan biaya. Permasalahan tersebut tentu harus tetap di evaluasi guna memperoleh pembelajaran yang lebih baik. Kuncinya adalah untuk melakukan pembelajaran online sesaui dengan kondisi setempat. Hal terpenting untuk menciptakan kemandirian dan keterampilan belajar peserta didik di tengah pandemic COVID-19(Mastura & Santaria, 2020).
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Pembelajaran
menggunakan Internet memberikan kemudahan dalam memberikan transfer informasi
pada berbagai situasi dan kondisi. Ragam manfaat dari kemudahan pembelajaran
online didukung berbagai platform mulai dari diskusi hingga tatap muka secara
virtual. Namun kemampuan dalam penggunaan teknologi internet menjadi kendala
utama bagi semua pihak untuk mengikuti pembelajaran online. Tanpa adanya
pelatihan awal, guru akan merasa asing dengan kondisi yang mengharuskan
pembelajaran dari rumah. Dampak dari covid-19 bagi guru, peserta didik dan
orang tua sangat besar dimana dengan keadaan seperti ini membutuhkan dan harus
meluangkan waktu ekstra bagi peserta didik dan anak agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai. Adapun kendala yang paling mendasar yaitu fasilitas yang kurang
memadai karena biasanya guru maupun peserta didik melakukan proses pembelajaran
dengan fasilitas yang cukup memadai namun dihadapkan dengan fasilitas yang
hanya bergantung pada internet.
B. SARAN
Kompetensi
guru dalam menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran harus memadai. Guru
harus mahir dalam penggunaan teknologi karena berpengaruh terhadap kualitas
pembelajaran. guru harus mampu merancang metode yang sesuai dan tepat dalam
proses pembelajaran daring. Komunikasi juga menjadi aspek penting dalam
keberhasilan pembelajaran daring. Namun, penggunaan Internet sebagai media
pembelajaran perlu di evaluasi dan disesuaikan dengan kondisi setempat,
mengingat kemampuan orang tua memberikan fasilitas pembelajaran online berbeda.
Kuncinya adalah memaksimalkan kemampuan peserta didik belajar dalam kondisi
pandemic seperti ini. Pandemi covid-19 sangat berdampak terhadap proses
pembelajaran bagi guru dan peserta didik maupun orang tua.
DAFTAR
PUSTAKA
Herliandry, L. D., Nurhasanah, N., Suban, M. E., &
Kuswanto, H. (2020). Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19. JTP - Jurnal
Teknologi Pendidikan, 22(1), 65–70.
https://doi.org/10.21009/jtp.v22i1.15286
Mastura,
& Santaria, R. (2020). Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Proses Pengajaran
bagi Guru dan Siswa Pendahuluan. Jurnal Studi Guru Dan Pembelajaran, 3(2),
289–295.
Milawati,
A., Amalia, A. N., Education, E., Program, S., Gede, P., & Barat, J.
(n.d.). THE EFFECT OF INTENSITY OF INTERNET USE ON LEARNING ACHIEVEMENT OF
XI IPS CLASS STUDENTS ON ECONOMIC LESSONS.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembatasan_sosial_berskala_besar_Indonesia_2020

Comments
Post a Comment