BUDAYA MUTU DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

 

BUDAYA MUTU DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

 


Ditulis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Penilaian Mata Kuliah Manajemen Berbasis Sekolah

 

 

 

Oleh :

                Nama   : KIYAT YULIANI

                NIM    : 8720318170010

 

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

UNIVERSITAS PANCA SAKTI

BEKASI

2020





PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan berperan penting dalam pengembangan sumber daya manusia sehingga menjadi berkualitas tinggi. Menurut Slamet (2008:1) melalui pendidikan sumber daya manusia dapat dikembangkan kualitasnya (Riyanta, 2016). Meningkatkan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh budaya mutu sekolah. Menurut Husaini Usma (2006:410), pendidikan yang baik dan bermutu menjadi dasar pengembangan dan kemajuan selanjutnya (Riyanta, 2016)..

Menurut Zamroni (2013:2), peningkatan mutu sekolah adalah proses yang sistematis dan terus menerus untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu agar mencapai tujuan yang efektif dan efisien (Riyanta, 2016). Adanya persaingan antar lembaga pendidikan, tentu membawa implikasi terhadap perlunya pengembangan manajemen sekolah dengan melihat budaya mutu yang menuntut adanya profesionalitas dari kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah maupun guru sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran di kelas. (Trisandi & Afrizal Rizqi, 2020).

B.   FOKUS MASALAH

1.       PENGERTIAN BUDAYA MUTU

2.       KARATERISTIK BUDAYA MUTU

3.       STRATEGI MENINGKATAN BUDAYA MUTU DALAM MBS

4.       OPERASIONAL BUDAYA MUTU DALAM MBS

C.   TUJUAN PENULISAN

Tulisan ini dibuat untuk mengetahui tentang pengertian budaya mutu, karateristik budaya mutu, strategi meningkatkan budaya mutu dalam MBS serta mengetahui operasional budaya mutu dalam Manajemen Berbasis Sekolah.

 




PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN BUDAYA MUTU

Menurut Dipdiknas (2010), budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem ini digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang (Riyanta, 2016).

Mutu menurut Husaini Usman (2006:407) adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar, seberapa jauh suatu produk telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa aspek mutu meliputi (1) pelayanan prima kepada pelanggan, tanggung jawab sosial yang tinggi, dan kepuasan pelanggan, (2) pelanggan dinomorsatukan dan peserta didik sebagai pusat perhatian. Mutu di bidang pendidikan meliputi input, proses, dan output dan outcome. Input dinyatakan bermutu jika siap berproses. Proses pendidikan bermutu jika mampu menciptakan suasana PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Output dinyatakan bermutu jika hasil belajar akademik maupun non akademik siswa tinggi. Outcome dinyatakan bermutu jika lulusan terserap didunia kerja. Karakteristik mutu diantaranya (1) kinerja guru baik (2) tepat waktu (3) pelayanan prima bertahan lama (4) sekolah memiliki daya tahan yang baik (5) sekolah indah dan menarik (6) warga sekolah memiliki nilai-nilai moral dan profesionalisme (7) sarana dan prasarana tersedia dan mudah digunakan (8) sekolah memiliki SPM (9) konsistensi (10) mampu melayani. (Riyanta, 2016).

B.   KARATERISTIK BUDAYA MUTU PENDIDIKAN

Melalui pendekatan sistem, karakteristik Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yaitu adanya inputproses-output, digunakan untuk memandunya. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem, sehingga penguraian karakteristik MPMBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan kepada input, proses dan output.

Pertama, Input Pendidikan. Input pendidikan antara lain memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas, sumber daya tersedia dan siap, staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi, memiliki harapan prestasi yang tinggi, fokus pada pelanggan (khususnya siswa) dan input manajemen.

Kedua, Proses. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteriktistik proses, seperti: (1) Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi; (2) Kepemimpinan sekolah yang kuat; (3) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib; (4) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif;  (5) Sekolah memiliki budaya mutu; (6) Sekolah memiliki “teamwork” yang kompak, cerdas dan dinamis; (7) Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian); (8) Partisipasi yang tinggi dari warga dan masyarakat;  (9) Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen; (10) Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan pisik).

Ketiga, output sekolah. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu prestasi akademik (academic achievement) dan prestasi non-akademik (nonacademic achievement). Output prestasi akademik, misalnya, lomba karya ilmiah remaja, lomba-lomba lain (seperti lomba bahasa inggris, matematika, fisika), cara berpikir (kritis, kreatif/divergen, nalar, rasional, induktif, deduktif, dan ilmiah). Output non-akademik, misalnya keinginantahuan yang tinggi terhadap sesama, solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, kesenian dan kepramukaan (Trisandi & Afrizal Rizqi, 2020)

C.   STRATEGI MENINGKATAN BUDAYA MUTU DALAM MBS

Dalam kerangka memenuhi tuntutan dan kepuasan pelanggan atau pengguna jasa pendidikan diperlukan strategi yang jitu. Strategi tersebut diharapkan dapat mengatasi masalah rendahnya mutu pendidikan melalui optimalisasi sumber daya sekolah yang secara langsung dapat meningkatkan mutu sekolah. Mutu pendidikan harus diupayakan untuk mencapai kemajuan yang dilandasi oleh suatu perubahan terencana. Menurut Nurkholis (2003: 78-79) meningkatkan mutu sekolah dapat pula ditingkatkan melalui beberapa cara, seperti:

1)    meningkatkan ukuran prestasi akademik melalui ujian nasional atau ujian daerah yang menyangkut kompetensi dan pengetahuan, memperbaiki tes bakat (Scolastik Aptitude Test), sertifikasi kompetensi dan profil portofolio (portofolio profile),

2)    membentuk kelompok sebaya untuk meningkatkan gairah pembelajaran melalui belajar secara kooperatif (coorperative learning),

3)    menciptakan kesempatan baru di sekolah dengan mengubah jam sekolah menjadi pusat belajar sepanjang hari dan tetap membuka sekolah pada jam-jam libur,

4)    meningkatkan pemahaman dan penghargaan belajar melalui penguasaan materi (mastery learning) dan penghargaan atas pencapaian prestasi akademik,

5)    membantu siswa memperoleh pekerjaan dengan menawarkan kursus-kursus yang berkaitan dengan keterampilan memperoleh pekerjaan

Strategi di atas menunjukkan bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan dan harapan pelanggan/stakeholder. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan Pendidikan (Widodo, 2019).

D.   OPERASIONAL BUDAYA MUTU DALAM MBS

Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah ini, maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut yaitu penyusuan basis data dan profil sekolah lebih representatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf) dan keuangan; melakukan evaluasi diri (self assesment) untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personil sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya; berdasarkan analisis tersebut sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai (Nim, 2010)

 

KESIMPULAN

Peningkatan mutu sekolah merupakan pengelolaan secara menyeluruh sumber daya sekolah dengan mempergunakan dan memberdayakannya secara optimal berdasarkan standar mutu yang telah ditentukan oleh sekolah. Semua program dan kegiatan manajemen sekolah diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu kepuasan pelanggan (stakeholders) baik internal maupun eksternal karena kedua pelanggan tersebut memiliki hubungan timbal balik dan saling membutuhkan. Akhirnya, untuk menjadikan sekolah yang bermutu maka semua komponen yang ada di sekolah harus berkesadaran mutu dan membudayakan mutu dalam aktivitas sekolah serta manajemen sekolah yang berbasis pada mutu.





DAFTAR PUSTAKA

Nim, T. (2010). DI SEKOLAH DASAR NEGERI ( SDN ) 1 PASEBAN BAYAT Tesis Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mendapat Gelar Magister Pendidikan Islam PROGRAM PASCA SARJANA.

Riyanta, T. (2016). Mengembangkan Budaya Mutu Sekolah Melalui Kepemimpinan Transformasional. Jurnal Manajemen Pendidikan UNY, 12(2), 114301.

Trisandi, T., & Afrizal Rizqi, A. (2020). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) di Daerah Perbatasan: Studi di SMP N 2 Bokan Kepulauan, Banggai Laut, Sulawesi Tengah. MANAGERIA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(2), 335–352. https://doi.org/10.14421/manageria.2019.42-08

Widodo, H. (2019). Jurnal administarsi pendidikan. Administrasi Pendidikan, 26(April), 108–117.

 

Comments

Popular Posts